Wednesday, June 24, 2009

Demak Bintoro dan para Wali

Soko guru Sunan Kalijaga berupa potongan kayu yang diikat ijuk.

Puluhan orang duduk bersila membentuk lingkaran. Mereka tampak serius mendengarkan ceramah sang kiai. Sambil sesekali manggut, mereka menyimak kajian kitab tafsir Al-Quran, "Al-Ibriz", di Pendapa Masjid Agung Demak, Sabtu, 27 September lalu.

Letaknya di jalur Pantai Utara Jawa Tengah membuat masjid ini selalu ramai dikunjungi orang. Ada yang mampir untuk sekadar melihat tempat bersejarah, ada yang sekadar mampir untuk salat, ada pula yang sengaja datang untuk menziarahi Walisongo. Di musim mudik Lebaran, masjid ini menjadi tempat yang nyaman untuk melepas lelah setelah menempuh perjalanan panjang.

Bangunan atas masjid ini berupa atap limas piramida susun tiga (gunungan atau meru) sebagai pengejawantahan akidah Islamiyah yang bersumber pada iman, Islam, dan ihsan. Menurut Abdul Fattah, Ketua I Takmir Masjid Agung Demak, bangunan puncak biasanya disebut mustaka, yang menggambarkan bahwa kekuasaan tertinggi secara mutlak hanyalah Allah SWT.

Masjid yang dibangun pada 1466 Masehi ini sejak awal memang sering digunakan sebagai tempat pertemuan waliyullah. Persoalan yang dibahas bermacam-macam. "Tidak hanya soal agama, tapi juga strategi perang melawan penjajah," kata Fattah kepada Tempo.

Tempat ibadah peninggalan Walisongo ini terletak di depan alun-alun Kota Demak. Selain dikenal sebagai tempat pertemuan para wali, kawasan seluas 11 ribu meter persegi ini juga dikenal sebagai peninggalan bersejarah dari kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Secara fisik, keberadaan Keraton Demak memang belum ditemukan. Meski demikian, ada peninggalannya yang berupa masjid. "Ini seperti bukti Kerajaan Nabi Muhammad yang berupa Masjidil Haram di Mekah," ujar mantan pegawai Departemen Agama Jawa Tengah itu. Fattah juga mengatakan, menelusuri lokasi bekas Keraton Demak tidaklah mudah. Karena itulah belakangan muncul beberapa versi pengungkapan sejarah ini.

Pada 1982 hingga 1987, masjid ini direnovasi besar-besaran. Dananya didapat dari pemerintah pusat dan Organisasi Konferensi Islam (OKI). Menurut Fattah, renovasi dilakukan karena kayu-kayu yang usianya sudah ratusan tahun itu mulai lapuk. "Kalau tidak diganti berbahaya, bisa ambruk," ujarnya.

Masjid ini lalu berganti nama menjadi Masjid Agung Demak. Tempat ibadah peninggalan Walisongo ini sekarang menyandang gelar cagar budaya dan dilindungi oleh Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya serta Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang. "Masjid ini (Demak) merupakan living monument atau monumen hidup," ujar Fattah.

Masjid ini pernah menjadi contoh pembangunan Masjid Ibu Kota Kucing, Serawak, Brunei Darussalam, dan diberi nama Masjid Demak Baru yang diresmikan pada 1999.

Masjid Agung Demak semula bernama Masjid Glagahwangi karena didirikan di tengah Pondok Pesantren GlagahWangi oleh Walisongo bersama kaum santri, termasuk Pangeran Jimbun/Raden Husain/Raden Purbo/Raden Patah. Konon, masjid ini dibangun dalam satu malam, yakni pada malam Jumat Kliwon di bulan purnama.

Menurut Fattah, hal itu mengindikasikan bahwa para wali yang hidup pada 1400 sampai 1500 Masehi telah menganut paham mazhab empat, yakni Imam Syafi'i, Imam Ghozali, Imam Hambali, dan Imam Hanafi.

Yang paling unik dari masjid ini adalah soko guru dari Sunan Kalijaga, yakni potongan-potongan kayu yang diikat dengan ijuk (tali dari tanaman rumbia). Kala itu, tingginya kurang dari tiga meter. Padahal, kebutuhannya delapan meter. Karena lapuk, empat soko itu kini diganti dengan kayu jati, tapi konstruksi bangunannya terbuat dari kayu jati ukuran raksana. Aslinya, disimpan di museum, di sebelah utara masjid.

Di belakang masjid terdapat puluhan makam Kasultanan Bintoro, Demak, misalnya Raden Fattah (1478-1518 Masehi), Raden Patiunus (1518-1521 Masehi), Raden Trenggono (1521-1546 Masehi), dan lain-lain.

Masjid ini terdiri atas beberapa bagian. Di bagian utama ada emperan keliling, mihrob atau pengimaman, dan serambi. Bangunan induk memiliki satu pintu yang disebut bledek condro sengkolo abad ke-14 yang terbuat dari kayu jati. Menurut Fattah, pintu itu dibuat oleh Ki Ageng Selo, diberi lukisan binatang mahkota kepala naga dengan mulut terbuka. Pintu yang semula terletak di tengah masjid itu kini disimpan di museum.

Dampar kencana atau mimbarnya dibuat pada abad ke-13. Bentuknya seperti andong, berukuran sekitar dua meter persegi. Hingga kini, mimbar itu masih dipajang di dekat tempat imam melakukan salat, juga sebagai mimbar saat khatib khotbah Jumatan.

Benda lain yang juga disimpan di museum adalah beberapa lambang dan hiasan. Ada lambang bulus di pengimaman, surya majapahit, akar mimang atau lambang goib, piringan putri Campa, huruf-huruf ilahiyah, dan prasasti. "Benda-benda itu ada, tapi masih sulit untuk dijelaskan dan dipahami," kata Fattah. ROFIUDDIN


Disadur dari sumber aslinya:
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/10/06

No comments: