Tuesday, March 23, 2010

Peserta Ujian nasional di jateng tahun 2010

Di Jateng, sebanyak 309.497 siswa SMA/MA/SMALB/SMA terbuka/SMK mengikuti UN pada 22-25 Maret 2010. Jumlah itu terdiri atas 125.700 siswa SMA, 36.663 siswa MA, 100 siswa SMALB, 313 siswa SMA terbuka, dan 146.721 siswa SMK.

Ujian Nasional SMK

Tanggal 22 sampai dengan tanggal 25 maret 2010 adalah pelaksanaan ujian nasional untuk siswa siswi SMK seluruh Indonesia. Materi ujinya terdiri dari Bahasa Indonesia, bahasa inggris, matematika dan teori kejuruan.
Untuk ujian praktik sudah dilaksanakan pada bulan Februari. Menurut laporan dari provinsi, peserta ujiannya adalah 912.000.
Semoga lancar. saya melaksanakan supervisi UN di SMKN 1 Singosari Malang. mewawancarai 3 orang peserta.
Saya doakan semoga pelaksanaan UN tahun ini sukses, jujur dan kredibel.

Monday, March 15, 2010

VOCATIONAL AND TECHNICAL EDUCATION

Education which is mainly designed to lead participants to acquire the practical skills, know-how
and understanding necessary for employment in a particular occupation or trade or
class of occupations or trades. Successful completion of such programmes leads to a labour market
relevant vocational qualification recognized by the competent authorities in the
country in which it is obtained

Wednesday, March 3, 2010

Review Spektrum Program Keahlian

Sekarang sedang direview spektrum program keahlian SMK

Friday, February 19, 2010

Alin Tes Ing UGM

Dino iki Alin , anakku tes ing UGM diterno bojoku. Mugo-ketrimo lan kasembadan cita-citane.

Jleper nDesoku

Jleper iku salah sawijining désa / kalurahan ing Kecamatan Mijèn, Kabupatèn Demak, provinsi Jawa Tengah, Indonésia.
Deso Jleper kaapit dening kali loro, jenenge kali serang lan kali wulan. Deso Jleper duwe dusun aran ngemplak.
Biyen aku naliko cilik urip ono ing ngemplak desane Jleper. Aku sekolah ono ing madrasah Jleper, jenenge MI Miftahul Huda.Tahun 1971, aku tamat soko madrasah.
Pengalamanku naliko isih ono ndeso nyenegake banget.
Jleper kuwi salah sijine deso ing kecamatan Mijen. Kecamatan Mijen duwe 15 deso : Desa-Desa
1. Bakung ( panggonane pakde Sukardi. Biyen naliko aku isih cilik, kerep diwenehi sangu. Naliko Bodo, aku mesti diwenehi sangu. )
2. Banteng Mati : kuwi deso kidule Jleper. Aku duwe dulur tapi aku lali jenege. Dulurku kuwi rambute brintik, putune nyi Mur wak Kasan kyai.
3. Bermi : kuwi deso sak kidule Mijen, kaline akeh iwake. Salah sijine yoiku iwak sili. Sak iki yen aku kepingin iwak sili lungo menyang lamongan. Ning kono ono warung sing dodol pepesan sili. Rodo pedes, tapi tetep tak parani mrono.
4. Gempolsongo : aku ora pati ngerti deso iki
5. Geneng
6. Jleper
7. Mijèn ibu kota kecamatan lan kawedanan wedung. Biyen naliko aku melo lomba kasti aku keno gebuk bal kasti. Larane nganti sak iki isih iso aku rasakke.
8. Mlatèn : kuwi panggonane dulule kumaidi anake lik gedhor.
9. Ngegot : kancaku akeh soko ngegot. Pakde Kayatun ugo rabi karo makde sripatun sing omahe ngganjing ngegot. Pakde lkayatun duwe anak 4, ka khan, lan liya-liyane.
10. Ngela Kulon : aku nduwe dulur. Sing tak elingi kuwi makdeku entuk pakde carik ngelo kulon. Terus mbah Kholil ugo entuk mbah Yah soko ngelo kulon. Ono meneh makde Rub ugo entuk pakde Harsoyo. Kancane pakde ragil asmane pak Ali. PakZaenur yen ngumbah kerise dikumbah karo mbah kusen ngelo kulon. Ono kancaku sak kelas jenenge Hasyim. Sak iki deweke dadi guru. Guruku loro ugo soko ngelo kulon yaoyi pak Khumaidi karo pak Sonhaji.
11. Ngela Wétan : aku ora pati ngerti karo deso iki.
12. Pasir : pasir iku deso sing gede sak kecamatan.
13. Pecuk : kuwi tonggo deso sebelah wetan ngemplak. Biyen pak Zaenur senenge nyewo sawah pecuk. Biasane nyewo karo carik pecuk sing brengose nyekanthang lan isih kepernah sedulur.
14. Rejasari : Kuwi desane miftah, saiki miftah ono pangkalan Bun. Miftah kuwi putrane Lik Mashur, garwane lek Kofi. Lik kosim ugo entuk lik siti sing omahe resosari. Resosari nanti ganti jeneng yaitu rejosari mulyo. Tapi opo sak iki dari ganti? Aku ora ngerti.
15. Tanggul : desane kidul wetan njleper.

Sejarah & Keistimewaan Masjid Demak

Masjid Agung Demak adalah sebuah mesjid yang tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar agama Islam, disebut juga Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak.

Bangunan yang terbuat dari kayu jati ini berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), yang dibuat oleh empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus atau pangeran Sabrang Lor), sultan Demak ke-2 (1518-1521) pada tahun 1520.

A. Selayang Pandang

Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan Islam di tanah air, tepatnya pada masa Kesultanan Demak Bintoro. Banyak masyarakat memercayai masjid ini sebagai tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam, yang lebih dikenal dengan sebutan Walisongo (Wali Sembilan). Para wali ini sering berkumpul untuk beribadah, berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada penduduk sekitar. Oleh karenanya, masjid ini bisa dianggap sebagai monumen hidup penyebaran Islam di Indonesia dan bukti kemegahan Kesultanan Demak Bintoro.

Masjid Agung Demak didirikan dalam tiga tahap. Tahap pembangunan pertama adalah pada tahun 1466. Ketika itu masjid ini masih berupa bangunan Pondok Pesantren Glagahwangi di bawah asuhan Sunan Ampel. Pada tahun 1477, masjid ini dibangun kembali sebagai masjid Kadipaten Glagahwangi Demak. Pada tahun 1478, ketika Raden Fatah diangkat sebagai Sultan I Demak, masjid ini direnovasi dengan penambahan tiga trap. Raden Fatah bersama Walisongo memimpin proses pembangunan masjid ini dengan dibantu masyarakat sekitar. Para wali saling membagi tugasnya masing-masing. Secara umum, para wali menggarap soko guru yang menjadi tiang utama penyangga masjid. Namun, ada empat wali yang secara khusus memimpin pembuatan soko guru lainnya, yaitu: Sunan Bonang memimpin membuat soko guru di bagian barat laut; Sunan Kalijaga membuat soko guru di bagian timur laut; Sunan Ampel membuat soko guru di bagian tenggara; dan Sunan Gunungjati membuat soko guru di sebelah barat daya.


B. Keistimewaan

Luas keseluruhan bangunan utama Masjid Agung Demak adalah 31 x 31 m2. Di samping bangunan utama, juga terdapat serambi masjid yang berukuran 31 x 15 m dengan panjang keliling 35 x 2,35 m; bedug dengan ukuran 3,5 x 2,5 m; dan tatak rambat dengan ukuran 25 x 3 m. Serambi masjid berbentuk bangunan yang terbuka. Bangunan masjid ditopang dengan 128 soko, yang empat di antaranya merupakan soko guru sebagai penyangga utamanya. Tiang penyangga bangunan masjid berjumlah 50 buah, tiang penyangga serambi berjumlah 28 buah, dan tiang kelilingnya berjumlah 16 buah.

Masjid ini memiliki keistimewaan berupa arsitektur khas ala Nusantara. Masjid ini menggunakan atap limas bersusun tiga yang berbentuk segitiga sama kaki. Atap limas ini berbeda dengan umumnya atap masjid di Timur Tengah yang lebih terbiasa dengan bentuk kubah. Ternyata model atap limas bersusun tiga ini mempunyai makna, yaitu bahwa seorang beriman perlu menapaki tiga tingkatan penting dalam keberagamaannya: iman, Islam, dan ihsan. Di samping itu, masjid ini memiliki lima buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, yang memiliki makna rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Masjid ini memiliki enam buah jendela, yang juga memiliki makna rukun iman, yaitu percaya kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari kiamat, dan qadha-qadar-Nya.

Bentuk bangunan masjid banyak menggunakan bahan dari kayu. Dengan bahan ini, pembuatan bentuk bulat dengan lengkung-lengkungan akan lebih mudah. Interior bagian dalam masjid juga menggunakan bahan dari kayu dengan ukir-ukiran yang begitu indah.

Bentuk bangunan masjid yang unik tersebut ternyata hasil kreativitas masyarakat pada saat itu. Di samping banyak mengadopsi perkembangan arsitektur lokal ketika itu, kondisi iklim tropis (di antaranya berupa ketersediaan kayu) juga mempengaruhi proses pembangunan masjid. Arsitektur bangunan lokal yang berkembang pada saat itu, seperti joglo, memaksimalkan bentuk limas dengan ragam variasinya.

Masjid Agung Demak berada di tengah kota dan menghadap ke alun-alun yang luas. Secara umum, pembangunan kota-kota di Pulau Jawa banyak kemiripannya, yaitu suatu bentuk satu-kesatuan antara bangunan masjid, keraton, dan alun-alun yang berada di tengahnya. Pembangunan model ini diawali oleh Dinasti Demak Bintoro. Diperkirakan, bekas Keraton Demak ini berada di sebelah selatan Masjid Agung dan alun-alun.

Di lingkungan Masjid Agung Demak ini terdapat sejumlah benda-benda peninggalan bersejarah, seperti Saka Tatal, Dhampar Kencana, Saka Majapahit, dan Maksurah. Di samping itu, di lingkungan masjid juga terdapat komplek makam sultan-sultan Demak dan para abdinya, yang terbagi atas empat bagian:

* Makam Kasepuhan, yang terdiri atas 18 makam, antara lain makam Sultan Demak I (Raden Fatah) beserta istri-istri dan putra-putranya, yaitu Sultan Demak II (Raden Pati Unus) dan Pangeran Sedo Lepen (Raden Surowiyoto), serta makam putra Raden Fatah, Adipati Terung (Raden Husain).

* Makam Kaneman, yang terdiri atas 24 makam, antara lain makam Sultan Demak III (Raden Trenggono), makam istrinya, dan makam putranya, Sunan Prawoto (Raden Hariyo Bagus Mukmin).

* Makam di sebelah barat Lasepuhan dan Kaneman, yang terdiri atas makam Pangeran Arya Penangsang, Pangeran Jipang, Pangeran Arya Jenar, Pangeran Jaran Panoleh.
* Makam lainnya, seperti makam Syekh Maulana Maghribi, Pangeran Benowo, dan Singo Yudo.


C. Arsitektur

Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit.

Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah museum, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.

D. Lokasi

Masjid Agung Demak terletak di Desa Kauman, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. http://info.g-excess.com/id/info/Masjid-Demak.info